Di balik tenangnya ruangan wawancara…

Ruang tempat wawancara seleksi beasiswa LPDP itu terlihat rapi, teratur, dan tidak terlalu ramai. Para pelamar duduk dengan tertib dan tenang, menunggu panggilan wawancara. Ah, seperti suasana seleksi-seleksi lainnya, begitu pikir saya. Tapi ternyata saya salah. Salah besar. Di balik ketenangan itu ternyata tersembunyi keriuhan yang luar biasa. Keriuhan dalam usaha mendapatkan salah satu beasiswa yang paling banyak dicari di Indonesia saat ini.

Ada beberapa jenis beasiswa yang disediakan LPDP, dan semuanya menjadi primadona sexy yang diperebutkan oleh anak-anak bangsa. Meskipun tahun ini LPDP mengubah orientasinya (dari sekitar 5000 beasiswa, 60% diarahkan untuk studi dalam negeri dan 40% sisanya ke luar negeri), tetaplah beasiswanya diincar oleh para generasi muda kita. Dan hukum kompetisipun berlaku: siapa siap, dia dapat.

Bicara tentang cara-cara menyiapkan diri, kita semua harus mengakui bahwa orang Indonesia itu punya kreativitas yang tinggi. Ada saja ide kreatif yang muncul, tapi sayangnya ada pula yang berani melakukan hal-hal yang tercela.

Sebut saja misalnya tentang indikasi sertifikat TOEFL abal-abal. Dari cerita panitia seleksi, mereka cukup banyak menemukan sertifikat TOEFL palsu, artinya saat dicek di lembaga pemberi sertifikat, ternyata nama yang bersangkutan tidak terdaftar. Bisa juga sertifikatnya aspal. Nama si pelamar memang terdaftar di lembaga tersebut, tapi entah dengan cara bagaimana, dia bisa mendapatkan sertifikat dengan skor tinggi. Lucunya, saat wawancara ditanya dalam bahasa Inggris, tidak keluar sepatah jawabanpun dari mulutnya. Jika panitia seleksi atau pewawancara menemukan kasus seperti ini, langsung saja aplikasi beasiswanya masuk keranjang sampah.

Ada juga yang strateginya lebih ‘halus’. Si pelamar masuk lewat jalur beasiswa afirmasi, yang memang persyaratannya lebih ringan sehingga kompetisinya tidak terlalu berat. Ada teman saya, sesama pewawancara, yang bercerita bahwa dia menemukan aplikasi lamaran beasiswa afirmasi dari seseorang. Kebetulan teman saya kenal dengan orang tua si pelamar, dan tahu persis bahwa kedua orang tuanya tinggal dan bekerja di salah satu kota besar di Jawa, dan jelas bukan termasuk kategori yang layak diperlakukan dengan skema afirmasi. Entah apa yang ada dalam pikiran si pelamar tersebut sehingga dia tega menjalankan cara itu.

Sepertinya banyak pelamar yang kebingungan bagaimana caranya agar bisa tembus aplikasinya. Mungkin karena bingungnya lalu mereka mencari jalur terpendek yang kira-kira efektif. Sepintas jalur-jalur cepat ini terlihat meyakinkan, tetapi sebenarnya tidak selalu demikian. Saya coba sebutkan beberapa contoh.

Yang pertama, ada pelamar yang berusaha mempelajari (dan menghapalkan!) pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul saat wawancara. Jadi ternyata sudah ada kompilasi ‘frequently-asked questions’ (FAQ) untuk wawancara LPDP juga…hahaha… Kata teman yang pernah membacanya, daftar FAQnya sudah mencapai 114 pertanyaan! Dia tahu tentang ini karena pernah mewawancarai kandidat yang membawa lembaran FAQnya saat wawancara.

Contoh kedua, ternyata ada juga ‘bimbingan belajar’ (bimbel) untuk menghadapi wawancara LPDP. Saat sesi wawancara berlangsung, di sebuah pojok ruangan berlangsung juga bimbel untuk beberapa pelamar yang belum dipanggil. Ada seorang tutor yang sibuk menjelaskan sesuatu kepada beberapa pelamar yang merubungnya. Entah apa yang diajarkan, tapi para peserta kursus kilat itu nampak serius memperhatikan tutornya…
Apakah cara-cara itu efektif? Kalau beruntung, mungkin si pelamar bisa lolos dengan cara-cara tersebut, tapi menurut saya, lebih banyak tidak efektifnya. Mengapa? Karena semua itu hanyalah jalan pintas. Short cut. Karena hanya short cut, maka ia tidak bisa merengkuh apa yang ingin disampaikan secara utuh. Pada akhirnya saat wawancara munculnya jadi aneh.

Di daftar FAQ mungkin ada satu item pertanyaan: “setelah selesai kuliah apa rencana anda?” FAQ itu memang benar, pertanyaan itu akan selalu ditanyakan pewawancara. Di bimbel, mungkin tentornya bilang, kalau ada pertanyaan seperti itu, jawablah “saya ingin menjadi dosen”. Mungkin alasannya karena dosen menjadi prioritasnya LPDP, sehingga kesempatan mendapatkan beasiswa jadi lebih besar. Percaya atau tidak, dalam satu sesi wawancara saya, 90% pelamar menjawab dengan jawaban ini. Tapi apa yang terjadi saat wawancara? Saat awal si pelamar bercerita panjang lebar tentang pekerjaannya sebelum kuliah: menjadi tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit. Sudah menjadi tenaga tetap pula. Lah kok saat ditanya rencananya setelah lulus, berubah 180 derajad ingin menjadi dosen. Akhirnya yang muncul adalah fragmen-fragmen penjelasan yang tidak utuh, tidak menyambung satu sama lain, dan “wagu” (ini bahasa Jawa yang artinya aneh dalam konotasi negatif).

Contoh wagu lainnya, mungkin di bimbel wawancara disebutkan, buatlah pewawancara terharu dengan cerita-cerita yang bikin sedih, kalau perlu menangislah saat menceritakan itu. Sekali lagi, kenyataannya di lapangan jauh berbeda. Ada pelamar yang mengeluarkan air mata saat menceritakan suatu kejadian yang menggembirakan!

oin yang ingin saya sampaikan adalah, jalan pintas kebanyakan tidak mengantarkan pada kesuksesan. Dalam wawancara, yang ingin dilihat adalah keutuhan pribadi pelamar, bukan cerita sepotong-sepotong yang tidak nyambung. So, be yourself. Jadilah diri anda sendiri. Ceritakan kehidupan anda secara wajar dan utuh. Kewajaran ini akan membentuk rasionalitas yang penting untuk menentukan apakah pelamar layak untuk diberi beasiswa atau tidak.

“Okay, saya harus menunjukkan kewajaran dan apa adanya, tapi bagaimana kemudian itu bisa membawa saya ke kesuksesan?”, mungkin begitu pertanyaan pelamar. Ya, benar. kewajaran itu penting, tapi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan. Melamar beasiswa pada hakekatnya adalah perjuangan untuk mendapatkan perhatian (winning the attention) pemberi beasiswa. “Bagaimana caranya agar LPDP bisa melihat saya sebagai kandidat yang layak”, begitu kira-kira. Jawaban sederhananya: buatlah perbedaan. Buatlah diri anda berbeda dibandingkan kandidat yang lain. Bagaimana membuat perbedaan? Nah, di sinilah tempatnya beradu kreatifitas. Jika punya prestasi akademik, tunjukkanlah itu. Jika prestasinya di bidang non-akademik? Itu juga bisa. Jika prestasinya tidak menonjol tapi aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat? LPDP senang dengan hal-hal semacam itu. Tiap orang pasti punya kelebihan. Itu yang harus digali, dibungkus dengan rapi, dan disajikan secara menarik saat wawancara.

Membungkus dengan rapi itu tidak berarti harus menambahkan hiasan di sana-sini. Pewawancara hanya punya waktu maksimal 40 menit untuk menggali informasi tentang pelamar, jadi hanya hal-hal esensial saja yang perlu dimunculkan. Bagi pewawancara, rangkaian penjelasan yang runtut, logis, dan konvergenlah yang diharapkan, dan “cerita” semacam ini tidak bisa dikarang. Substansi cerita haruslah terbentuk dari track record yang dibangun dalam waktu yang tidak sebentar. Jika anda sudah punya jalur tertentu, janganlah berpaling dari jalur itu. Memaksa keluar jalur secara tiba-tiba hanya akan membuat track record anda patah dan tidak menarik lagi. Contohnya ya seperti yang saya sampaikan sebelumnya: dari dulu sudah menjadi tenaga kesehatan kok tiba-tiba ingin menjadi dosen.

Bagaimana bagi seorang fresh graduate yang belum pernah bekerja sebelumnya? Sama saja. Track record itu tidak selalu harus berupa jejak-jejak pekerjaan, tapi bisa juga ditunjukkan melalui kegiatan, inisiatif, bahkan cara pandang. Kalau anda ingin menjadi dosen tapi anda tidak pernah menjadi asisten praktikum, tidak pernah mengajar, atau tidak paham tentang tugas dosen, ya jangan berharap akan punya jalur yang mulus. Ada pelamar yang waktu ditanya kelak ingin jadi apa, jawabnya,”Saya ingin jadi dosen sekaligus berwiraswasta”. Emangnya dosen itu pekerjaan sambilan, mas?
Intinya, membangun track record itu perlu waktu dan harus disiapkan dengan baik. Track record yang baik hanya akan muncul dari persiapan dan perencanaan yang baik. Oleh karena itu, pesan saya khususnya bagi para mahasiswa, mumpung anda masih punya kesempatan, gunakan kesempatan itu untuk membangun track record anda. Rencanakanlah masa depan, lalu lakukan berbagai aktivitas untuk mendukung pencapaian rencana tersebut. Jangan sampai menyesal di kemudian hari, karena setelah tidak menjadi mahasiswa lagi, anda tidak akan punya cukup waktu dan kesempatan untuk menyiapkan diri.

Oh…saran saya bagi para pelamar beasiswa LPDP untuk berbagai jalan pintas yang saya sampaikan di atas, anggap saja memberikan informasi untuk sekedar diketahui, tapi janganlah serahkan masa depan anda bulat-bulat kepada mereka. Tentukan dan bangun sendiri jalan anda.

Dan omong-omong, kayaknya bikin bimbel untuk wawancara LPDP atau menulis buku ‘FAQ Wawancara LPDP’ menarik juga yah…hahahaa…

*)Diterbitkan pertama kali pada tanggal 26 Februari 2016 di Facebook Note oleh Lukito Edi Nugroho (Wakil Dekan FT UGM dan Interviewer LPDP)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s